10 Muharram dan Anjuran Menyantuni Anak Yatim - NURMASINTANG.COM

NURMASINTANG.COM

Menyajikan Informasi Seputar Yayasan Pondok Pesantren Agropolitan Nurul Ma'arif Sintang

nurmasintang.com

Home Top Ad

Post Top Ad

Tuesday, September 10, 2019

10 Muharram dan Anjuran Menyantuni Anak Yatim


Sintang, www.nurmasintang.com- Momentum 10 Muharram dijadikan sebagai Idul Yatama atau Hari Raya Anak Yatim, berdasarkan anjuran untuk menyantuni anak-anak yatim pada hari tersebut.

"Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat menyayangi anak-anak yatim. Dan beliau lebih menyayangi lagi pada hari Asyura atau tanggal 10 Muharram, di mana pada tanggal tersebut, Beliau menjamu dan bersedekah bukan hanya kepada anak yatim, tapi juga keluarganya," kata Ustadz Asyifur Rozaq S.Pd.I, saat memberikan ceramah pada acara pengajian umum dalam rangka santunan anak yatim di Masjid Jami Baiturrohmah, SKPC SP 2 Desa Mait Hilir, pada Senin (9/9/2019) malam.

Ustadz Asyifur Rozaq menjelaskan,
di dalam kitab Faidul Qadir disebutkan, menjamu anak yatim dan keluarganya pada tanggal 10 Muharram merupakan sunnah Nabi Muhammad SAW dan pembuka keberkahan hingga setahun penuh.

Kemudian dalam kitab Tanbihul Ghafilin bi-Ahaditsi Sayyidil Anbiyaa-i wal Mursalin disebutkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda:

مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى ثَوَابَ عَشْرَةِ آلافِ مَلَكٍ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشْرَةِ آلَافِ حَاجٍّ وَمُعْتَمِرٍ وَعَشْرَةِ آلافِ شَهِيدٍ ، وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً

"Barangsiapa berpuasa para hari Asyura (tanggal 10) Muharram, niscaya Allah akan memberikan seribu pahala malaikat dan pahala 1.000 dari orang yang haji dan umroh pahala syuhada’. Dan baragsiapa mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, niscaya Allah mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya."



Ustadz Asyifur Rozaq menyebutkan, Sanad hadits ini memang dla’if (lemah), tapi isinya (matan hadits) boleh diamalkan, karena berkaitan dengan kebajikan-kebajikan (fadla’ilul a’mal).

"Mengenai maksud mengusap kepala anak yatim dalam hadits di atas, sebagian ulama mengartikannya sebagai makna hakiki (mengusap kepala dengan tangan), dan sebagian lainnya mengartikan sebagai makna kinayah (kiasan)," tuturnya.


Penulis: Sukardi
Editor: Sukardi

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad